Gardaanimalia.com - Kalteng mencatat akumulasi hotspot tertinggi di Pulau Kalimantan. Dua taman nasional di dalamnya menyumbang 91,60 persen dari seluruh titik panas di habitat orangutan kalimantan.
Taman Nasional Tanjung Puting dan Sebangau di Kalimantan Tengah menjadi dua kawasan lindung yang terbakar dalam krisis karhutla di Pulau Kalimantan.
Dua lokasi itu adalah habitat bagi orangutan kalimantan subspesies Pongo pygmaeus wurmbii, subspesies yang memiliki tubuh relatif paling besar di antara subspesies lain, dan merupakan satwa endemik Kalimantan Tengah dan sekitarnya.
Geopix mengungkap bahwa kedua tempat tersebut merupakan taman nasional yang paling terdampak akibat karhutla, berdasarkan data pemantauan periode 1 Juni-12 Oktober 2026.
Geopix mempublikasikan temuannya dalam laporan bertajuk “Act Now! Borneo Lautan Api” pada jumpa pers daring, Jumat (16/10/2026).
Selama periode pemantauan, Geopix menyebutkan bahwa Provinsi Kalimantan Tengah mencatat akumulasi titik panas (hotspot) tertinggi di Kalimantan. Provinsi ini menyumbang sekitar 50,6 persen dari total lebih dari 572.000 titik panas di seluruh Kalimantan, dengan eskalasi yang mencapai puncaknya pada September 2026.
“Situasinya semakin parah ketika kebakaran mengancam habitat orangutan dalam skala sebesar ini,” kata Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati.
Annisa mengatakan, kelangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan dalam ancaman serius, begitu pula kesehatan dan harapan hidup masyarakat di Kalimantan.
Taman Nasional Tanjung Puting mengalami kerusakan ekosistem masif dengan 19.189 titik panas. Luas lahan yang terbakar selama periode pemantauan hampir dua kali lipat dari seluruh luas daratan Provinsi DKI Jakarta atau setara dengan 136.969 hektare.
Lalu, Taman Nasional Sebangau menyusul dengan 6.887 titik panas. Area yang terbakar hampir setara dengan luas wilayah daratan Kota Surabaya, yaitu 37.685 hektare.
Dengan terbakarnya kedua taman nasional tersebut, orangutan kehilangan wilayah jelajah di hutan mereka. Geopix mencatat bahwa habitat mereka menyumbang sekitar 403.000 titik panas. Jumlah tersebut mencakup 91,60 persen dari seluruh titik panas di habitat orangutan kalimantan.
Orangutan dan Satwa Lainnya Mengungsi Akibat Karhutla
Karhutla merusak habitat dan memutus koridor orangutan kalimantan. Akibatnya, kerap kali ditemukan orangutan keluar dari habitatnya dan memicu konflik dengan manusia.
Sementara, saat karhutla terjadi, sebagian dari mereka terpaksa keluar dan ditemukan dalam kondisi kritis.
Di Kalimantan Tengah, Yayasan BOS Foundation melaporkan bahwa 47 orangutan di tempat rehabilitasinya mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jumlah ini meningkat dari data sebelumnya, dari 21 individu pada awal September.
“Ini (karhutla) sangat mengancam sehingga kita banyak sekali orangutan yang di-rescue dan masuk ke permukiman. Bahkan ada yang mati hanyut baru-baru ini di sungai di Desa Kumai, buffer-zone Taman Nasional Tanjung Puting,” kata Annisa.
“Terlebih, orangutan itu sharing 97 persen genetika dengan manusia. Jadi, apa yang terjadi pada manusia itu hampir semuanya juga sama [dialami oleh orangutan]. Ini alert bagi kita.”
Selain orangutan, Geopix mencatat satwa lain yang terdampak karhutla, seperti trenggiling, ular, elang bondol, anak monyet, bekantan, ular piton, ular kobra, dan anak kucing hutan (kuwuk) di seluruh Kalimantan. Semuanya ditemukan dalam kondisi beragam, mulai dari sesak napas, mati terbakar, hingga masuk ke permukiman warga.


![Harapan Memutus Siklus Api [Bagian 4]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/harapan-memutus-siklus-api-bagian-4.webp)


![Rumah yang Hilang [Bagian 3]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/rumah-yang-hilang-bagian-3.webp)







