Tulisan ini adalah bagian dari serial Jejak Api yang kami dedikasikan untuk memotret secara komprehensif bencana karhutla di Indonesia.
Gardaanimalia.com - Ia terseok-seok, berlari ketakutan, ke sana ke mari tak tentu arah. Tubuhnya lemah. Buah, daun, dan ranting sudah berhari-hari jadi abu. Air hilang ditelan musim panas. Yang tersisa adalah lumpur, yang terpaksa ia kais dari kanal-kanal yang mengering di perkebunan sawit, sekedar mengurangi dahaga yang mencekik lehernya di tengah asap.
Begitulah situasi yang dihadapi Sampurna, satu individu orangutan jantan berusia 40 tahun yang ditemukan tergeletak lemas di perkebunan sawit di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Bagi Sampurna, karhutla melalap apa yang selama ini menjadi “rumah”, menghilangkan sumber makanan dan air.
Sampurna dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 30 Agustus 2026.Naas, ia menghembuskan napas terakhir setelah sempat menerima perawataan medis.
Cerita pilu orangutan yang terkepung karhutla tidak selesai dengan kematian Sampurna.
Ada pula kisah dari satu individu anak orangutan bernama Dewa, ia ditemukan oleh PT Harapan Hibrida Kalimantan Barat ketika berpatroli rutin pada Sabtu 26 September 2026 pukul 11.00 WITA. Pilunya, sebagai orangutan yang masih kecil, Dewa ditemukan sendirian tanpa induknya, terjebak di atas pohon di tengah pekatnya asap karhutla yang menyelimuti rumahnya.
Dewa kini berada di kandang transit Kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II BKSDA Kalimantan Tengah untuk menjalani proses pemeriksaan dan pemulihan oleh tim dokter hewan.
Per 30 September 2026, terdapat 21 individu orangutan dievakuasi di Kalimantan Tengah serta 43 individu orangutan di Kalimantan Barat. Setidaknya Delapan di antaranya sudah ditranslokasi atau dipindahkan ke kawasan yang lebih aman.
Upaya menyelamatkan orangutan dari kepungan karhutla tidak berhenti ketika satwa berhasil dievakuasi. Mereka harus direhabilitasi, sebelum dinyatakan siap untuk dilepasliarkan. Pertanyaannya, ke mana mereka akan dilepasliarkan jika habitat yang tersedia semakin menyempit akibat karhutla? Ia terseok-seok, berlari ketakutan, ke sana ke mari tak tentu arah.
Hancurnya Sumber Pangan, Sarang, dan Hilangnya Wilayah Jelajah Orangutan
Efek karhutla tidak berhenti ketika api padam. Bagi orangutan, kerusakan habitat akan memicu rangkaian persoalan serupa efek domino.
Dihubungi pada Rabu, 23 September 2026, Director Species and Habitat Protection Orangutan Information Center (OIC), Indra Kurnia, menyebutkan ada tiga fungsi habitat yang terganggu akibat karhutla, bahkan setelah kebakaran padam.
Pertama, pangan. Ketika karhutla membumihanguskan habitat orangutan, sumber makanan ikut musnah.
“[Orangutan] itu bergantung sekali dengan habitat kawasan hutan, karena mereka makannya berupa buah, atau pucuk daun, kulit kayu, dan itu semuanya berasal dari pohon,” ujar Indra.
Kedua, tempat bersarang. Sebagai satwa arboreal, orangutan sangat bergantung pada pepohonan. Ketika pohon-pohon terbakar, tempat untuk membangun sarang pun ikut menghilang.
“Mereka harus buat sarang di mana lagi?” ucap Indra penuh tanda tanya.
Dampak ketiga adalah rusaknya wilayah jelajah orangutan. Satwa ini membutuhkan wilayah jelajah mencapai puluhan kilometer persegi, terutama pada jantan dewasa. Luasnya bergantung pada spesies, jenis kelamin, kualitas habitat, dan ketersediaan pakan.
Ketika habitat terfragmentasi atau terbakar, orangutan dapat kehilangan bagian penting dari wilayah jelajahnya. Kondisi tersebut dapat mendorong mereka mencari makanan di luar habitat alami, termasuk mendekati kawasan yang digunakan manusia.
“Orangutan kan tidak mengerti status hutan, misalnya hutan produksi. Dia [hanya] tahu, aku bisa pindah ke tempat lain, lewat kanopi pohon. Ternyata itu area berhutan, tetapi [statusnya] bukan kawasan hutan, dan dekat malah ke kawasan permukiman,” jelas Indra.
Meningkatnya Risiko Konflik Orangutan dan Manusia
Jika berbicara soal manusia, menurut Indra, dampak karhutla juga dirasakan masyarakat.
Salah satunya dari sisi kesehatan. Bagi masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan, asap karhutla mungkin hanya menjadi hambatan ketika mereka harus bepergian.
“Namun, kalau yang beraktifitas di luar, seperti berdagang di pasar, petani, ojol, pasti ada dampaknya dari sisi kebakaran terkait kesehatan,” jelas Indra.
Selain itu, Indra menyebut bahwa manusia masih punya pilihan untuk menghindari efek karhutla, berbeda dengan orangutan atau satwa liar lainnya.
“Orangutan ini diberikan otak, tapi tidak diberikan akal. Jadi kalau kita pakaikan masker, dia anggap itu alat mengganggu, dia tarik, padahal bisa menghalangi paparan kabut asap,” akui Indra.
Dalam kondisi habitat yang rusak dan sumber daya yang terbatas, orangutan dapat bergerak menuju tempat yang dianggap lebih aman dan masih menyediakan makanan. Masalah muncul ketika orangutan berada di perkebunan.
Mereka akan dianggap sebagai gangguan atau hama oleh sebagian masyarakat.
“[Orangutan] makan buah yang ada di kebun itu, itu masyarakat akan menganggap, saya rugi, apakah itu konflik? Bisa jadi,” jelas Indra, dengan catatan kebun yang didatangi tidak berada di kawasan hutan lindung orangutan.
Karena itu, meredam konflik antara orangutan dan warga, terlebih ketika karhutla telah merusak habitat alaminya, membutuhkan pendekatan koeksistensi.
Koeksistensi adalah keadaan ketika dua belah pihak atau lebih saling hidup bersamaan dalam ruang dan waktu yang sama tanpa harus menyingkirkan pihak yang lain. Dalam konteks ekologi dan konservasi, koeksistensi merujuk ketika manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan di lingkungan yang sama dengan konflik yang dapat dikelola dan dihindari.
Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui kearifan lokal maupun metode pengusiran yang lebih manusiawi ketika orangutan dianggap mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kalau pun merasa terganggu, kita sudah latih mereka, silahkan diusir orangutan. Caranya begini, menggunakan jeduman, ada semacam meriam yang menimbulkan suara atau pakai petasan tapi tidak langsung ke orangutan, agar orangutannya kembali ke habitat alami,” ucap Indra.
Namun, di sisi lain, Indra mengakui bahwa ada kelompok masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan orangutan, tanpa menganggapnya sebagai hama.
Indra mencontohkan kearifan masyarakat Sumatera Utara, khususnya etnis Batak, dalam menyikapi orangutan yang memasuki perkebunan pada masa lalu. Ketika terdapat 10 buah durian di kebun dan satu di antaranya dimakan orangutan, masyarakat tidak mempermasalahkannya karena sembilan buah lainnya masih dapat dinikmati.
“Anggap saja itu sedekah,” tutur Indra menirukan respons masyarakat Batak.
Bukan Cuma Orangutan
Di tengah kepungan api, tidak hanya orangutan saja yang ikut terdampak, berbagai satwa liar lainnya juga turut kehilangan ruang untuk menyelamatkan diri.
Dokter Hewan YIARI, Komara, mengatakan persoalan kesehatan yang paling umum ditemukan pada satwa terdampak karhutla adalah gangguan pernapasan dan luka bakar.
Selain itu, satwa liar juga memiliki keterbatasan untuk menghindari paparan asap dibandingkan manusia yang dapat menggunakan masker atau berpindah dari kawasan terdampak.
“Satwa hanya bisa menerima kondisi yang ada di sekitar lingkungan mereka,” ujar Komara ketika dihubungi pada Rabu (23/9/2026).
Komara menuturkan, YIARI berkolaborasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir melakukan patroli penyelamatan satwa liar terdampak karhutla.
Trenggiling (Manis javanica) menjadi salah satu satwa yang paling sering ditemukan di sekitar area kebakaran. Selain itu, YIARI juga menerima kasus musang tenggalung (Viverra tangalunga), bekantan (Nasalis larvatus), dan lutung-lutungan di kawasan terdampak.
“Apapun, baik itu satwa yang sudah sangat lemah sekali atau sebenarnya dia sehat, kita akan pantau terlebih dahulu,” kata Komara. Kondisi satwa kemudian diperiksa untuk menentukan apakah membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Salah satu kasus yang ditangani adalah musang tenggalung yang ditemukan dengan tubuh penuh luka bakar. Kondisinya semakin melemah selama kurang lebih satu minggu dalam perawatan medis, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Menurut Komara, kasus tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa tidak berhenti ketika api membakar habitat. Satwa yang berhasil selamat dari kobaran api masih dapat mengalami konsekuensi kesehatan akibat luka bakar maupun gangguan pernapasan.
Apinya Padam, Dampaknya Belum
Karhutla seringkali diukur dari luas kawasan yang terbakar. Padahal, angka itu hanyalah awal dari persoalan yang jauh lebih panjang.
Yang tertinggal dari karhutla yang padam adalah hutan yang kehilangan fungsi, satwa yang kehilangan rumah, sumber pakan yang menghilang, koridor pergerakan yang terputus, serta manusia yang harus menghadapi konsekuensi dari lingkungan yang rusak.
Selama habitat belum pulih dan sumber kehidupan belum kembali, mereka masih harus mencari cara untuk bertahan di rumah yang sudah “hilang” ditelan api.



![Tuan Lahan Membara [Bagian 2]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/tuan-lahan-membara-bagian-2.webp)
![Bencana Terencana: Jejak Api Karhutla yang Diabaikan Negara [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/bencana-terencana-jejak-api-karhutla-yang-diabaikan-negara-bagian-1.webp)










