Gardaanimalia.com - Sering luput dari pemikiran kita, hutan adalah great natural barrier. Ketika kebakaran melalap hutan, apa yang terjadi pada patogen yang selama ini tersembunyi di sana?
Asap karhutla tahun ini sudah masuk ke paru-paru 314.124 orang. Itu jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dicatat Kementerian Kesehatan di wilayah terdampak karhutla sejak 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Sebanyak 70.890 di antaranya balita1.
Kita terbiasa menghitung dampak api dengan dua angka: hektare yang hangus dan orang yang batuk. Ada satu risiko yang jarang masuk hitungan, padahal datangnya lebih senyap. Ketika hutan terbakar dan dibuka, satwa yang menyimpan virus terdesak keluar, lalu bertemu ternak dan manusia.
Karena itu, saya berpendapat zoonosis bukan isu terpisah. Ia ujung dari perburuan dan degradasi habitat yang selama ini kita tulis. Karhutla 2026 adalah pengingat paling keras untuk menyambungkan keduanya.
Karhutla 2026 dalam Angka
Menurut factsheet MapBiomas Fire yang dirilis Auriga Nusantara, area terbakar di Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai 637.011 hektare. Luasnya hampir sepuluh kali luas daratan Jakarta. Lonjakan terbesar terjadi pada Agustus, naik 113 persen dibanding Juli.
Di tingkat provinsi, Kalimantan Barat berada di urutan ketiga dengan 60.890 hektare, terluas di Pulau Kalimantan. Kabupaten Ketapang menjadi kabupaten dengan area terbakar terluas kelima, yakni 28.304 hektare.
Api juga melahap bentang yang paling penting bagi satwa. Sebanyak 126.431 hektare atau 20 persen area terbakar berada di lahan gambut, sebagian besar di Kalimantan dan Sumatera. Lebih dari separuh area terbakar, yakni 331.246 hektare, berada di dalam kawasan hutan.
Factsheet itu juga mencatat 20.363 hektare terbakar di habitat harimau, badak, gajah sumatera, dan orangutan. Untuk orangutan saja, luasnya 5.657 hektare2.
Sinyal bahaya sudah terlihat sejak pertengahan tahun. Menurut laporan Mongabay, platform FireWatch mencatat lebih dari 96.000 titik panas muncul hingga 27 Juli 2026. Itu jumlah tertinggi untuk tanggal yang sama dalam catatan mereka, melampaui 2019 (sekitar 88.000) dan 2023 (sekitar 58.000).
Ilmuwan iklim memperkirakan El Niño tahun ini berpeluang menjadi yang terkuat dalam sekitar 150 tahun pencatatan3.
Pola sepuluh tahun terakhir menunjukkan api bukan kejadian acak. Menurut data SiPongi yang dihimpun GoodStats, lonjakan besar selalu datang pada tahun kemarau panjang. Luasnya 2,6 juta hektare pada 2015, 1,65 juta hektare pada 2019, dan 1,16 juta hektare pada 2023. Dengan El Niño sekuat ini, 2026 berpotensi masuk daftar yang sama4.
Per 14 September 2026, BNPB mencatat 85.766 hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas. Kalimantan Barat menyumbang 38.311 hektare, disusul Riau dan Kalimantan Tengah. Provinsi-provinsi ini adalah rumah orangutan, gajah sumatera, dan bentang gambut yang sering menjadi bahan tulisan ini.
Dampaknya pada manusia sudah terukur. Data Kemenkes mencatat 82.177 kasus ISPA di Sumatera Selatan, 78.894 di Kalimantan Selatan, dan 55.686 di Kalimantan Barat.
CELIOS menaksir kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla Januari–Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun5.
Jejak Pembukaan Lahan dari Tahun ke Tahun
Api tidak menyala di ruang hampa. Ia membakar lanskap yang sudah lebih dulu dibuka dan dikeringkan.
Auriga Nusantara mencatat deforestasi Indonesia pada 2025 mencapai 433.751 hektare, naik 66 persen dari 261.575 hektare pada 2024. Sekitar 44 persen deforestasi itu terjadi di dalam konsesi6.
Rinciannya, 110.898 hektare di konsesi kehutanan (PBPH), 41.162 hektare di konsesi tambang, dan 37.910 hektare di kebun sawit. Dengan kata lain, hampir separuh hutan yang hilang tahun lalu dibuka di atas izin resmi.
Untuk melihat polanya dari tahun ke tahun, saya mengolah data satelit Global Forest Change dari Hansen dan rekan (2013). Pengolahan difokuskan pada dua provinsi dengan lahan terbakar terluas tahun ini7.
Sepanjang 2001–2025, Kalimantan Barat kehilangan sekitar 4,37 juta hektare tutupan pohon, atau 32 persen dari tutupan pohon tahun 2000. Riau kehilangan luas yang hampir sama, tetapi itu setara 57 persen tutupan pohon awalnya.
Perlu dicatat, kehilangan tutupan pohon tidak sama dengan deforestasi. Angka ini juga mencakup kebakaran dan panen kebun kayu, dan dihitung dari piksel citra sehingga bersifat indikatif. Meski begitu, polanya jelas. Riau dibuka lebih dulu, dengan puncak pada 2004–2012, lalu melambat karena hutan yang tersisa tinggal sedikit.
Kalimantan Barat menyusul dengan puncak pada 2009–2016. Setelah sempat turun, kehilangan tutupan pohon di provinsi ini kembali naik menjadi sekitar 207 ribu hektare pada 2023, tahun El Niño sebelumnya. Tahun ini, dua provinsi tersebut kembali menjadi penyumbang lahan terbakar terluas.
Jejak perusahaan juga terlihat pada api tahun ini. Greenpeace Indonesia dan Pantau Gambut mendeteksi 6.811 titik sumber asap pada 8 Agustus–1 Oktober 20268.
Sebanyak 980 titik berada di 233 konsesi sawit dan 970 titik di 120 konsesi PBPH. Sebanyak 2.719 titik muncul lagi di lahan yang pernah terbakar pada 2015–2023.
Analisis Pantau Gambut dalam laporan yang sama menemukan 97–99 persen lahan bekas terbakar dalam sepuluh tahun terakhir tidak kembali menjadi hutan. Sebanyak 54 persen berubah menjadi kebun sawit skala besar. Api, dengan kata lain, sering menjadi tahap awal pembukaan lahan.
Titik api di dalam konsesi belum membuktikan siapa yang menyalakannya. Kepada CNBC Indonesia, dua grup sawit yang disebut dalam laporan itu, Bumitama Agri dan First Resources, membantah9. Mereka menyatakan api berasal dari luar area kelolaan mereka. Pembuktian ada di tangan aparat.
Satwa yang Tertekan, Virus yang Berpindah
Argumen pertama datang dari kajian Johnson dan rekan di Proceedings of the Royal Society B (2020)10. Mereka menelusuri berapa banyak virus yang dimiliki bersama oleh tiap spesies mamalia dan manusia. Hasilnya, di antara satwa terancam punah, spesies yang populasinya merosot karena eksploitasi dan kehilangan habitat berbagi lebih banyak virus dengan manusia.
Temuan itu diperkuat Gibb dan rekan di jurnal Nature (2020)11. Di kawasan yang sudah diubah manusia, seperti kebun, lahan pertanian, dan kota, satwa pembawa patogen justru lebih dominan. Proporsinya dalam komunitas spesies 18–72 persen lebih tinggi dibanding habitat yang belum terganggu. Efeknya paling kuat pada tikus, kelelawar, dan burung pengicau.
Artinya, kerusakan hutan tidak hanya mengurangi jumlah satwa. Ia mengubah komposisi satwa yang tersisa, dan yang bertahan cenderung yang paling sering membawa penyakit.
Asap juga menekan tubuh satwa itu sendiri. Erb dan rekan (2018) meneliti orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) di hutan gambut Tuanan, Kalimantan Tengah, saat karhutla 201512. Selama asap pekat, orangutan lebih banyak beristirahat dan membakar cadangan lemak. Peneliti menduga energi itu terkuras untuk respons imun. Satwa yang lemah dan stres lebih rentan terinfeksi, dan lebih mungkin menularkan.
Menurut CNN Indonesia, BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI menyelamatkan sedikitnya 46 orangutan sejak Agustus hingga 9 Oktober 202613. Mereka diselamatkan dari habitat yang terbakar di Ketapang dan Kayong Utara. Sebagian ditemukan terisolasi di petak hutan kecil yang dikepung kebun sawit.
Orangutan bukan reservoir utama virus berbahaya, tetapi kisahnya menunjukkan apa yang juga dialami kelelawar, monyet, dan tikus yang tak pernah masuk berita.
Api Mendekatkan Satwa, Tenak, dan Manusia
Argumen kedua punya contoh nyata yang dekat dengan kita, seperti direkam Chua dan rekan (2002). Pada 1997–1998, kebakaran hutan besar di Indonesia dan kemarau El Niño menyelimuti Asia Tenggara dengan kabut asap14. Pohon hutan gagal berbuah, dan kelelawar buah (Pteropus spp.) berpindah ke kebun buah di Malaysia yang menyatu dengan peternakan babi.
Dari sana virus Nipah melompat ke babi, lalu ke manusia. Menurut Looi dan Chua (2007), wabah September 1998 hingga Mei 1999 itu menyebabkan 265 kasus radang otak dan 105 kematian15. Industri babi Malaysia nyaris runtuh.
Perlu dicatat, para ilmuwan masih memperdebatkan bobot tiap faktor. Pulliam dan rekan (2012) menilai pola peternakan intensif berperan besar dalam meluasnya wabah16. Namun justru itu intinya. Wabah terjadi ketika satwa yang terusir hutan rusak bertemu sistem peternakan dan permukiman yang padat.
Pola serupa tampak pada malaria Plasmodium knowlesi, yang berpindah dari monyet ekor panjang ke manusia lewat nyamuk. Studi Fornace dan rekan (2016) di Sabah, Malaysia, menemukan jumlah kasus di desa berkaitan dengan hilangnya hutan di sekitarnya17. Pemodelan Tobin dan rekan (2024) menempatkan Malaysia dan Indonesia sebagai wilayah dengan risiko penularan tertinggi18.
Dalam skala global, Morand dan Lajaunie (2021) menemukan lonjakan wabah zoonosis dan penyakit tular vektor pada 1990–2016 berkaitan dengan deforestasi di negara tropis. Wabah penyakit tular vektor juga berkaitan dengan bertambahnya luas kebun sawit19.
Sawit, Tambang, dan Perburuan adalah Isu Kesehatan
Argumen ketiga menyangkut cara kita membaca isu. Allen dan rekan (2017) memetakan titik panas penyakit zoonosis baru di seluruh dunia. Risiko paling tinggi berada di kawasan hutan tropis yang sedang mengalami perubahan tata guna lahan dan kaya spesies mamalia. Deskripsi itu cocok dengan Sumatera, Kalimantan, dan Papua hari ini.
Selama ini rubrik Opini Garda Animalia banyak membahas sawit di Tesso Nilo, tambang nikel di Sulawesi, dan karhutla di Kalimantan. Semua itu kita tulis sebagai isu habitat. Padahal, setiap hektare yang dibuka juga memperpendek jarak antara virus di tubuh satwa dan manusia.
Perburuan dan perdagangan menambah jalan pintasnya. Morcatty dan rekan (2022) menemukan kelelawar buah, inang potensial virus Nipah, dijual di 10 dari 14 pasar satwa Indonesia20. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), inang potensial sembilan virus zoonosis, dijual di 13 pasar. Ironisnya, survei Kusumaningrum dan rekan (2022) di Sulawesi Utara menyasar pemburu, pedagang, dan konsumen satwa liar. Hanya 1 persen dari mereka yang menganggap kontak dengan satwa liar bisa membuat sakit21.
Menyatukan Kebijakan Hutan dan Kesehatan
Apa yang bisa dilakukan? Pertama, penanganan karhutla perlu memasukkan pengawasan zoonosis, bukan hanya ISPA. Tim kesehatan yang dikirim ke daerah asap bisa bekerja bersama dokter hewan dan BKSDA. Mereka dapat memantau kesehatan satwa yang dievakuasi, koloni kelelawar, dan ternak di sekitar lokasi kebakaran.
Kedua, lahan bekas terbakar tidak boleh menjadi pintu masuk kebun baru. Setiap kali lahan terbakar ditanami komoditas perkebunan, batas antara satwa dan manusia bergeser satu langkah lagi. Penegakan hukum terhadap pembakar lahan, perorangan maupun korporasi, adalah juga kebijakan kesehatan.
Ketiga, pemulihan gambut dan hutan perlu dihitung sebagai investasi kesehatan. Tinjauan sistematis Fell dan rekan di Nature Sustainability (2026) menemukan deforestasi umumnya menaikkan risiko penularan22. Sebaliknya, sebagian upaya restorasi seperti penghutanan kembali dan konservasi lahan basah dapat menurunkannya.
Bagi kita yang menulis isu satwa liar, ini juga pengingat. Panduan Garda Animalia menyebut enam isu satwa liar yang saling terkait. Tulisan tentang sawit, tambang, perburuan, dan karhutla sesungguhnya juga tulisan tentang kesehatan masyarakat.
Asap bisa hilang dalam hitungan minggu ketika hujan datang. Virus yang sudah berpindah inang tidak semudah itu pergi. Melindungi hutan, pada akhirnya, adalah cara paling murah untuk mencegah pandemi berikutnya.
















