Gardaanimalia.com - Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi tujuan migrasi lokal orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), kini dilalap api. Hingga pekan lalu, sekitar 49 persen kawasan tersebut dilaporkan terbakar.
Kebakaran ini menjadi ancaman serius bagi salah satu lanskap penting orangutan. Sebab, dalam kurun 2022–2025, kepadatan populasi orangutan di HLG Sungai Paduan meningkat secara kumulatif hingga 128 persen.
Data tersebut dipaparkan Manajer Program Perlindungan Satwa dan Habitat Yayasan Palung, Erik Sulindra, berdasarkan survei yang dilakukan di desa-desa sekitar HLG Sungai Paduan.
Hasil survei menunjukkan kepadatan populasi orangutan meningkat, dari 0,5 individu per kilometer persegi pada 2022 menjadi 1,1 individu per kilometer persegi pada 2025.
“Dengan estimasi pada 2022 sejumlah 32 individu dan 2025 menjadi 72 individu di lanskap tersebut,” papar Erik, Senin (14/9/2026).
Namun, peningkatan populasi itu kini dibayangi ancaman kebakaran. Dampak kebakaran mulai terlihat di lapangan. Tim gabungan telah mengevakuasi sedikitnya tujuh individu orangutan kalimantan dan seekor trenggiling (Manis javanica) dari sekitar kawasan yang terdampak.
Ketujuh orangutan yang dievakuasi kini berada di Pusat Rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sedangkan trenggiling diserahkan ke Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Kalimantan Barat.
Migrasi Lokal Tingkatkan Kepadatan Orangutan
Erik menjelaskan, lonjakan kepadatan populasi orangutan dalam waktu relatif singkat hampir dipastikan bukan disebabkan kelahiran alami.
Menurut hasil analisis Yayasan Palung, peningkatan tersebut terjadi karena migrasi lokal orangutan dari metapopulasi Kubu Raya, salah satu kantong populasi yang tercantum dalam Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan 2016.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metapopulasi adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan populasi dari spesies sama yang berbeda habitat dan saling berhubungan melalui peristiwa migrasi.
Metapopulasi Kubu Raya berada di bagian utara HLG Sungai Paduan, lokasi yang sama dengan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Mayawana Persada. Perusahaan ini diketahui mulai membabat hutan sejak 2021, setahun sebelum data kepadatan populasi meningkat.
Dalam kondisi kebakaran saat ini, Erik menyebut Hutan Desa Nipah Kuning dan Hutan Desa Padu Banjar masih berpotensi menjadi tempat perlindungan bagi orangutan yang menghindari kobaran api.
“Namun, melihat kondisi saat ini, hutan yang tersisa itu juga akan habis. Semoga saja tidak,” katanya berharap.
Hingga kini, HLG Sungai Paduan masih dikepung api. Tim patroli terus berupaya melakukan pemadaman agar kebakaran tidak menjalar ke kawasan hutan tersisa.
“Sulit dibayangkan. Sedih membayangkan bagaimana orangutan harus bertahan dan lari ke mana lagi. HLG Sungai Paduan adalah salah satu rumah terakhir, dan sekarang hampir habis terbakar,” tuturnya di akhir wawancara.








![Bencana Terencana: Jejak Api Karhutla yang Diabaikan Negara [1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/bencana-terencana-jejak-api-karhutla-yang-diabaikan-negara-1.webp)







