Gardaanimalia.com - Halmahera tak luput dari api. Meski kini mereda, api terlanjur menghanguskan habitat penting burung endemik Maluku Utara.
Hujan turun sekitar seminggu yang lalu. Memadamkan api yang sempat menyala-nyala di Halmahera, Maluku Utara.
Akhir September lalu, api menyambar kawasan sekitar Trans Akejawi, kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur.
Berdasarkan informasi masyarakat mitra Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, api diketahui pertama kali muncul dari salah satu kebun warga pada Minggu (20/9/2026).
Api kemudian meluas hingga tiga hari kemudian, Rabu (23/9/2026) sore, memasuki kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di salah satu lokasi yang menjadi habitat sejumlah spesies burung.
Penanganan kebakaran cukup menyulitkan tim di lapangan karena kebutuhan air masih dipenuhi secara manual dengan mengambilnya dari kali atau sungai. Ditambah kondisi medan yang cukup curam membuat proses pengambilan air tidak mudah. Beberapa anggota tim bahkan sempat tergelincir saat membawa air dari kali menuju lokasi kebakaran.
Meskipun menghadapi berbagai kendala di lapangan, tim yang terdiri atas masyarakat mitra dan pihak taman nasional terus berupaya memadamkan api hingga kondisi di lokasi dapat dikendalikan.
Api Dekat dengan Lokasi Birdwatching
Dewananda Syahputra, anggota masyarakat mitra yang ikut menangani kebakaran di lapangan, mengatakan jarak api dengan spot pengamatan burung (birdwatching) hanya sekitar 50 meter.
Menurutnya, area yang terbakar merupakan habitat beberapa jenis burung, termasuk paok halmahera (Pitta maxima), cekakak pita-biasa (Tanysiptera galatea) dan paok maluku utara (Erythropitta rufiventris).
Kebakaran di lokasi tersebut telah ditangani selama hampir sepekan. Dewananda mengatakan api berhasil dipadamkan oleh tim pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 01.30 malam waktu setempat.
Meski api telah berhasil dikendalikan, kawasan tersebut masih diawasi karena masih terdapat kemungkinan munculnya kembali titik api.
Salah satu burung yang habitatnya berada di area kebakaran tersebut adalah paok halmahera.
Burung endemik Maluku Utara ini memiliki kehidupan yang erat dengan lantai hutan karena membuat sarang di sekitar semak dan beraktivitas di lantai hutan. Makanannya antara lain cacing tanah serta serangga yang terdapat pada kayu-kayu lapuk.
Karakter kehidupan tersebut membuat kondisi vegetasi dan bagian lantai hutan menjadi penting bagi spesies itu.
Ketika api masuk kawasan tersebut, bagian-bagian habitat yang digunakan untuk mencari makan, berlindung, maupun berkembang biak berada dalam tekanan.
Sejauh ini belum ada laporan mengenai burung yang mati atau terluka akibat kebakaran. Namun, dampak terhadap satwa tidak selalu dapat langsung terlihat. Perubahan vegetasi, berkurangnya sumber makanan, dan terganggunya kondisi habitat dapat menjadi dampak yang berlangsung panjang meski api telah padam.
Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan salah satu kawasan penting bagi burung-burung khas Maluku Utara.
Berdasarkan data Balai TN Aketajawe Lolobata, terdapat setidaknya 141 spesies burung di dalam kawasan, termasuk 26 spesies yang merupakan endemik Maluku Utara.
Karena itu, ketika kebakaran masuk ke kawasan taman nasional, yang mengkhawatirkan bukan hanya luas area yang terbakar, tetapi juga bagian habitat yang mengalami perubahan.
Kerusakan vegetasi dan hilangnya unsur-unsur habitat dapat mempengaruhi kehidupan satwa dalam jangka yang lebih panjang, bahkan ketika tidak ditemukan satwa yang mati atau terluka secara langsung.
Hutan membutuhkan waktu untuk memulihkan vegetasi dan kondisi yang mendukung kehidupan satwa.
Kebakaran di kawasan Trans Akejawi memperlihatkan bahwa ancaman terhadap hutan tidak selalu berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Ada bagian-bagian habitat yang mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali pulih.
Ketika api memasuki habitat burung-burung, yang dipertaruhkan bukan hanya pohon atau luas kawasan yang terbakar, tetapi keberlangsungan habitat bagi spesies yang memiliki persebaran terbatas di tanah Halmahera.



![Harapan Memutus Siklus Api [Bagian 4]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/harapan-memutus-siklus-api-bagian-4.webp)

![Bencana Terencana: Jejak Api Karhutla yang Diabaikan Negara [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/bencana-terencana-jejak-api-karhutla-yang-diabaikan-negara-bagian-1.webp)









